Selama bertahun-tahun, sebagian besar kontrak Facility Management (FM) di Indonesia masih berorientasi pada input-based model, di mana fokus utama ada pada jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan aktivitas harian. Misalnya, keberhasilan layanan sering diukur dari berapa banyak teknisi yang ditempatkan, seberapa cepat mereka hadir, atau seberapa sering jadwal pembersihan dilakukan. Namun, pendekatan ini menimbulkan sejumlah tantangan: · Tidak selalu mencerminkan hasil nyata terhadap kepuasan pengguna atau efisiensi operasional. · Menyulitkan pengukuran value for money karena biaya meningkat tanpa jaminan peningkatan kualitas. · Membatasi inovasi, karena vendor cenderung “menjalankan rutinitas” ketimbang mencari cara baru untuk meningkatkan kinerja fasilitas. Tren global menunjukkan pergeseran menuju Outcome-Based Contracting (OBC) model di mana keberhas...