Minggu, 14 Desember 2025

Transformasi Facility Management: Dari Aktivitas ke Hasil yang Terukur

Selama bertahun-tahun, sebagian besar kontrak Facility Management (FM) di Indonesia masih berorientasi pada input-based model, di mana fokus utama ada pada jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan aktivitas harian.

Misalnya, keberhasilan layanan sering diukur dari berapa banyak teknisi yang ditempatkan, seberapa cepat mereka hadir, atau seberapa sering jadwal pembersihan dilakukan.

 

Namun, pendekatan ini menimbulkan sejumlah tantangan:

·       Tidak selalu mencerminkan hasil nyata terhadap kepuasan pengguna atau efisiensi operasional.

·       Menyulitkan pengukuran value for money karena biaya meningkat tanpa jaminan peningkatan kualitas.

·       Membatasi inovasi, karena vendor cenderung “menjalankan rutinitas” ketimbang mencari cara baru untuk meningkatkan kinerja fasilitas.

 

Tren global menunjukkan pergeseran menuju Outcome-Based Contracting (OBC) model di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah orang, tetapi dari hasil kerja yang terukur.

Dalam model ini, klien dan penyedia layanan menyepakati indikator kinerja utama (KPI) yang berfokus pada hasil, seperti:

1.       Tingkat kepuasan pengguna fasilitas (occupant satisfaction score)

2.       Ketersediaan aset penting (uptime)

3.       Pengurangan konsumsi energi atau biaya operasional

4.       Kepatuhan terhadap standar keselamatan dan keberlanjutan

 

Dengan model ini:

·       Vendor memiliki kebebasan untuk menentukan cara terbaik mencapai hasil.

·       Inovasi, digitalisasi, dan efisiensi kerja menjadi bagian dari strategi bisnis.

·       Klien mendapatkan hasil nyata yang selaras dengan tujuan organisasi, bukan sekadar aktivitas rutin.

 

Relevansi untuk Tim FM di Indonesia

Perubahan ini membutuhkan transformasi mindset dan kompetensi dari seluruh tim FM, baik dari sisi klien maupun penyedia layanan.

 

Beberapa langkah yang perlu dipersiapkan antara lain:

·       Peningkatan kemampuan analitik dan pengukuran kinerja, agar tim dapat mengelola KPI berbasis hasil.

·       Pemahaman teknologi dan data-driven decision, karena outcome-based bergantung pada bukti data, bukan asumsi.

·       Perubahan budaya kerja dari “menjalankan perintah” menjadi “mencapai hasil”.

·       Kemitraan strategis dengan vendor, bukan sekadar hubungan transaksi.

Langkah-langkah tersebut perlu ditingkatkan oleh kedua belah pihak, selaku client dan vendor, karena memerlukan persamaan persepsi untuk bisa menjalankan model Outcome-Based Contracting (OBC) ini.

 

Dengan contoh indikator kinerja utama (KPI) yang disepakati, maka timbul komitment yang perlu dipelajari dan ditindaklanjuti bersama, contoh:

KPI

Client

Vendor

Tingkat kepuasan pengguna fasilitas (occupant satisfaction score).

Komitmen untuk mengisi survey secara aktif serta memberikan masukan untuk perbaikan.

Aktif untuk bertanya dan melakukan rapat koordinasi dengan client.

Ketersediaan aset penting (uptime).

Komitmen untuk mencatat dan memberikan data asset.

Memiliki system pencatatan serta rapih dokumentasi.

Pengurangan konsumsi energi atau biaya operasional.

Komitmen untuk semua karyawan mengikuti program yang disetujui dan pendanaan untuk mengganti peralatan yang sudah rusak.

Aktif memberikan usulan penghematan energi.

Kepatuhan terhadap standar keselamatan dan keberlanjutan.

Komitmen untuk semua karyawan mengikuti program keselamatan yang dibuat.

Meningkatkan kompetensi untuk mengetahui standar keselamatan dan aktif berkomunikasi kepada client.


Menatap Masa Depan FM yang Berorientasi Hasil

Era kontrak outcome-based membuka peluang besar bagi industri FM Indonesia untuk naik kelas. Dengan mengubah fokus dari berapa banyak orang yang bekerja menjadi seberapa besar hasil yang dicapai, organisasi dapat meningkatkan efisiensi, kepuasan pengguna, dan keberlanjutan jangka panjang.

 

Perusahaan dan profesional FM yang mampu beradaptasi dengan model ini, menguasai data, inovasi, dan kolaborasi akan menjadi pemain utama dalam ekosistem FM modern yang lebih strategis dan bernilai tinggi.

 

Semoga bermanfaat

 

Transformasi Facility Management: Dari Aktivitas ke Hasil yang Terukur

Selama bertahun-tahun, sebagian besar kontrak Facility Management (FM) di Indonesia masih berorientasi pada input-based model, di mana fokus...