Langsung ke konten utama

SWMS sebagai Alat Utama untuk Mengelola Risiko dan Keselamatan dalam Facility Management



Kebakaran di K-Link Tower, Jalan Gatot Subroto, Setiabudi, Jakarta Selatan terjadi pada Sabtu (15/7/2023) sekitar pukul 10.00 WIB. Empat unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api di lokasi kejadian. Kobaran api dapat cepat tertangani berkat penanganan yang cepat petugas pemadam kebakaran (damkar) bekerja sama dengan petugas keamanan dan petugas gedung, serta fire protection gedung yang sesuai standar dan bekerja dengan baik.

Dalam pengelolaan fasilitas (facility management), keamanan dan kesehatan pekerja harus menjadi prioritas utama. Untuk mencapai hal tersebut, Safety Work Method Statement (SWMS) atau Pernyataan Metode Kerja Aman merupakan dokumen penting yang diperlukan.

Adanya SWMS akan mempersiapkan langkah-langkah yang diambil untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko yang terkait dengan setiap pekerjaan, penggunaan peralatan pelindung diri (APD) yang sesuai, prosedur darurat, serta prosedur pemantauan dan pengawasan yang ketat. SWMS membantu memastikan bahwa pekerja dan personel proyek memiliki pemahaman yang jelas tentang tugas mereka, serta langkah-langkah yang harus diambil untuk menjaga keamanan mereka dan orang lain di sekitar mereka.

 

Berikut 3 hal penting dibuatnya Safety Work Method Statement (SWMS):

  1. Identifikasi Risiko: SWMS memungkinkan pengidentifikasian dan penilaian risiko terkait dengan pekerjaan tertentu. Dengan mengidentifikasi potensi bahaya dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat, SWMS membantu mengurangi risiko cedera dan kerugian di tempat kerja.
  2. Standar Kerja yang Konsisten: SWMS memastikan adanya standar kerja yang konsisten di seluruh organisasi atau proyek. Dengan memiliki prosedur yang jelas dan terdokumentasi, SWMS membantu meminimalkan kesalahan dan meningkatkan efisiensi operasional.
  3. Kesadaran dan Keterlibatan: Dengan melibatkan pekerja dalam proses penyusunan SWMS, mereka menjadi lebih sadar tentang risiko yang ada di tempat kerja dan langkah-langkah yang harus diambil untuk menghindari kecelakaan. SWMS juga mendorong keterlibatan aktif pekerja dalam upaya menjaga keamanan dan kesehatan di tempat kerja.

Facility Manager perlu memastikan SWMS dibuat secara serius dengan melakukan evaluasi dan diskusi dengan semua pihak terkait untuk pekerjaan yang akan dilakukan. Safety Work Method Statement (SWMS) adalah dokumen penting dalam menjaga keamanan di tempat kerja. SWMS membantu dalam identifikasi risiko, menyediakan standar kerja yang konsisten, dan meningkatkan kesadaran serta keterlibatan pekerja terhadap keamanan.

Dalam dunia facility management, SWMS digunakan untuk memastikan langkah-langkah keselamatan yang diperlukan diikuti dengan baik. Dalam rangka menjaga keamanan dan kesehatan di tempat kerja, SWMS merupakan alat yang sangat penting yang harus dipahami dan diimplementasikan oleh semua pihak terlibat.

Pastikan team facility management anda mengenal SWMS dan tahu untuk melakukan koordinasi dan komunikasi dengan semua pihak untuk memastikan keselamatan dan keamanan dari fasilitas anda.

Semoga bermanfaat


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggung Jawab Facility Management Team

Apa saja tanggung jawab dari facility management team? Yang utama adalah hal-hal dibawah ini: 1)      Mengatur & mempersiapkan budgets (secara tahunan dan bulanan) dan mengatur pengeluaran. o     Level Manager: selain mempersiapkan secara rutin untuk setiap tahunnya, untuk level manager, diharuskan mempunyai strategi khusus yang terkait dengan penghematan, inovasi dan project management o     Level staff: memastikan bahwa semua hal-hal rinci sudah dimasukkan kedalam budget dan melakukan pemeriksaan secara rutin. 2)      Pengelolaan Contract , melakukan tender dan negosiasi o     Level Manager: focus untuk pengelolaan kontrak, melakukan tender dan negosiasi. Dibeberapa perusahaan, level manager menangani kontrak dengan nilai tertentu (misal: min total nilai Rp. 500 juta per tahun ditangani manager) dan bekerja sama dengan bagian procurement. o     Level staff: mem...

7 Kompetensi Inti yang Harus Dikuasai oleh Facility Manager

Saya sudah beberapa kali menuliskan mengenai core competencies yang perlu dimiliki oleh Facility Manager. Dunia facility management selalu berkembang. Hingga hari ini, otomatisasi mulai banyak diimplementasikan, sustainability mulai diterapkan serta perusahaan sudah mulai memiliki ekspektasi bisnis yang lebih besar terhadap facility manager dalam mengelola fasilitas. Sudah bisa dipastikan, Facility Manager (FM) akan selalu memegang peran penting dalam menjaga operasional bangunan, mendukung produktivitas karyawan perusahaan, dan memastikan keberlanjutan fasilitas. Saya mendapatkan artikel menarik dari blog IFMA mengenai 7 kompetensi inti (core competencies) berikut harus dikuasai oleh FM untuk sukses di era saat ini, yang baru saja dituliskan di bulan May 2025. Berikut core competencies yang perlu dikuasai oleh FM menurut IFMA: 1. Kepemimpinan dan Strategi (Leadership & Strategy)  FM perlu memiliki kemampuan memimpin tim dan mengembangkan strategi yang selaras dengan tu...

Facility Management vs. Workplace Management di Era Kerja Hybrid: 4 Strategy Penting Untuk Integrasi

Setelah lebih dari 25 tahun bekerja di bidang facility management, saya pikir saya cukup familiar dengan istilah, sistem, dan dinamika pekerjaan di dalamnya. Namun, sejak 2020, ada satu istilah yang terus muncul dalam setiap diskusi, webinar, dan bahkan percakapan santai antar team: workplace management .   Dulu istilah ini tidak terlalu ramai. Tapi pasca pandemi COVID-19, seolah ada pergeseran besar: bukan hanya soal menjaga fasilitas tetap berfungsi, tapi juga bagaimana fasilitas itu mendukung cara kerja baru—yang fleksibel, digital, dan berbasis pengalaman karyawan.   Banyak Organisasi Masih Fokus pada Gedung, Bukan Penggunanya Saat ini, banyak perusahaan di Indonesia—terutama sektor perbankan, manufaktur, dan instansi publik—masih menganggap facility management (FM) cukup untuk menjalankan operasional kantor. Padahal di era kerja hybrid, pengalaman kerja (employee experience) sudah menjadi faktor utama dalam retensi, produktivitas, bahkan kesehatan mental karyawa...