Langsung ke konten utama

Facility Management di Indonesia: Salah Konsep, Salah Eksekusi


Ternyata, masih ada kesalahan implementasi Facility Management (FM) di banyak fasilitas di Indonesia. 

Yang perlu kita ingat, banhwa FM bukan sekadar urusan “bersih-bersih dan perbaikan ac”; FM adalah disiplin manajemen terpadu yang mengatur seluruh aspek operasional suatu bangunan agar aset tetap andal, aman, dan produktif sepanjang life-cycle atau siklus hidupnya. Namun, pada realitanya, penerapan FM di banyak fasilitas di Indonesia menunjukkan masih banyak gap antara ideal FM dan implementasinya di lapangan. 

Berikut 5 dari implementasi FM yang perlu dipahami lebih baik dan bagaimana memperbaikinya secara umum:  

1. Pemahaman FM yang Masih Dangkal. Di beberapa korporasi, masih adanya pandangan bahwa FM adalah bagian dari administratif atau sekedar dukungan teknis (cleaning service, tukang AC, tukang listrik), sehingga,  FM tidak dipandang sebagai fungsi strategis yang berkontribusi terhadap kinerja bangunan dan nilai keseluruhan aset. Banyak manajemen dari korporasi melakukan cut cost dengan mengabaikan fungsi FM yang holistik. 

Pandangan terkait FM tersebut menimbulkan masalah karena: tanpa pemahaman FM secara menyeluruh, fasilitas yang dipelihara akan mengalami kerusakan dini, gangguan operasional sering terjadi, dan biaya operasional jangka panjang justru meningkat. Ekspektasi dengan implementasi FM justru idealnya akan menurunkan total biaya operasional melalui pemeliharaan preventif yang tepat. 

Menurut saya, beberapa hal berikut perlu dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan pemahaman FM terhadap fasilitas yang dikelola: 
  • Melakukan workshop untuk memberikan penjelasan kepada pimpinan dan management korporasi mengenai nilai strategis FM, bukan semata fungsi teknis. Workshop ini bisa berupa penjelasan secara bisnis management mengenai relevansi antara pemeliharaan secara komprehensif dengan nilai financial dari fasilitas yang dikelola.  
  • Melakukan FM maturity assessment kepada team FM untuk menilai sejauh mana FM telah berjalan sesuai standar praktik terbaik. Berdasarkan assessment ini, bisa dibuatkan program untuk meningkatkan team FM yang ada serta memperbaiki komunikasi kepada management korporasi mengenai implementasi FM di korporasi tersebut. 
  • Jika memungkinkan, setiap management korporasi merencanakan membuat fasilitas baru, baik pengembangan atau konstruksi baru, agar melibatkan team FM sejak fase design & build (perencanaan dan konstruksi), atau konsultan FM, agar prinsip FM tertanam sejak awal, bukan sekadar setelah bangunan jadi. 

2. Kurangnya Integrasi Teknologi dan Data Digital. Banyak korporasi belum menerapkan teknologi digital seperti Facility Management Software (FMS), Computerized Maintenance Management System (CMMS), atau integrasi Building Information Modeling (BIM) yang bisa meningkatkan visibilitas data aset, jadwal perawatan, dan performa operasional. 

Saat ini, umumnya program pemeliharaan, pencatatan pemeliharaan dan pembelian spare part dicatat secara manual, sehingga, tanpa adanya penerapan teknologi digital akan memberikan dampak: 
Data pemeliharaan tidak tersentralisasi, sehingga pengambilan keputusan menjadi reaktif dan tidak/kurang memperhitungkan potensi resiko secara keseluruhan. 
Riwayat aset tidak terekam baik, sehingga data pemeliharaan tidak terlihat secara utuh dan membuatkan pemeliharaan tidak optimal.

Dari dampak di atas, maka solusi untuk memperbaiki pengambilan keputusan serta riwayat asset adalah: 
  • (Pastinya), segera membeli/membuat dan mengimplementasikan FMS/CMMS yang terintegrasi agar semua aktivitas FM (maintenance, aset, laporan keluhan) terdokumentasi rapi. 
  • Memanfaatkan Building Information Modeling (BIM) untuk memetakan aset dan kondisi gedung secara real-time sehingga prediksi perawatan lebih akurat. 
  • Memastikan team FM diberikan program edukasi yang jelas dan terarah saat implementasi teknologi tersebut. 

Berdasarkan tulisan dari building connection (link: https://buildingconnection.com.au/2023/06/02/common-challenges-for-facility-managers-adopting-new-building-operations-software), dengan menerapkan pengelolaan data aset terpusat dapat mengurangi tugas-tugas manual, memberikan informasi real-time serta meningkatkan efisiensi keputusan operasional secara signifikan. 

3. Kekurangan SDM Berkualitas dan Kompetensi Teknologi. Perlu diakui, praktisi FM di Indonesia masih banyak yang fokus pada aspek teknis klasik (pipa, listrik, kebersihan), tetapi kurang memiliki keterampilan di bidang data analitik, IoT, atau teknologi smart building. 

Management korporasi umumnya sangat antusias dalam mengadopsi teknologi baru, tetapi dikarenakan keterbatasan kompetensi, tidak dapat memaksimalkan fitur karena SDM tidak siap, dan menganggap bahwa implementasi teknologi adalah pemborosan investasi. 

  • Pastinya, membeli serta menerapkan teknologi baru tidak sesederhana membeli product, langsung pasang dan segera mendapatkan hasil. Management korporasi perlu menyiapkan:
  • Program upskilling dan cross-training untuk tim FM agar menguasai tools digital dan tren FM modern. Hal ini bisa didapatkan dari perusahaan teknologi yang menjual teknologi FM tersebut.
  • Jika team FM cukup besar (>10 personnel), bisa melakukan kolaborasi dengan universitas atau lembaga profesional untuk sertifikasi FM ber-standar internasional.
  • Untuk konsultan FM, bisa memberikan workshop kepada para client pengguna FM mengenai kompetensi dari team FM di sisi clie 


4. Tidak Adanya Perencanaan Preventive Maintenance yang Sistematis. Saya sadari, walaupun sudah banyak praktisi FM membuatkan program pemeliharaan secara komprehensif. Faktanya, masih ada korporasi yang mengeluarkan budget pemeliharaan setelah terjadinya kerusakan (breakdown maintenance), bukan preventive maintenance (jadwal terencana), dengan asumsi, jika belum rusak, belum perlu diganti. Ternyata, model pemeliharaan seperti ini justru membuat biaya operasi membengkak. 

Dampak dari breakdown maintenance ini antara lain: 
  • Downtime aset tinggi. Karena pada saat kerusakan terjadi, akan berakibat berhentinya operational karena tidak dipersiapkan sebelumnya. 
  • Karyawan/tenant tidak puas, sehingga tingkat kepuasan terhadap team FM akan turun. 

Untuk memastikan implementasi perencanaan preventive maintenance yang sistematis, perlu dilakukan hal-hal berikut:   
  • Menyusun jadwal preventive maintenance berbasis data historis. Penggunaan teknologi FM akan sangat membantu untuk hal ini.  
  • Gunakan sensor IoT untuk pemantauan real-time terhadap kondisi HVAC, listrik, dan sistem utama lainnya. 
  • Memastikan team FM melakukan komunikasi aktif terkait perencanaan serta membuatkan analisa resiko dalam pembuatan budget pemeliharaan. 

5. Masalah Kepatuhan Regulasi dan Standar Keamanan. Selain aspek teknis, FM harus memastikan kepatuhan terhadap regulasi keselamatan, sanitasi, dan lingkungan. Praktisi FM yang handal sudah banyak yang mengerti mengenai kepatuhan ini, tantangannya adalah memastikan team FM secara management korporasi mempunyai persepsi dan pengertian yang sama, sehingga dalam aktivitas FM, menyesuaikan dengan peraturan yang berlaku. Saat ini, beberapa korporasi masih belum memiliki sistem pemantauan kepatuhan yang baik khususnya untuk hal-hal terkait FM. 

Tentunya, mengimplementasikan compliance management system yang mengotomatisasi audit dan pengingat layanan inspeksi. Untuk lengkapnya, Compliance Management System (CMS) dalam FM adalah sistem terstruktur (proses + tools digital) yang memastikan seluruh aktivitas fasilitas patuh terhadap regulasi, standar keselamatan, dan persyaratan internal—tanpa bergantung pada ingatan manusia. Kita perlu memastikan sistem diimplementasikan agar terhindar dari downtime dengan situasi lupa proses (tidak ada prosedur), tidak terdokumentasi (checklist tidak ada), atau tidak termonitor (sistem tidak ada).

Implementasi FM yang efektif membutuhkan budaya korporasi yang memahami bahwa FM adalah nilai strategis, bukan cost center saja. Persamaan persepsi dengan pimpinan korporasi, investasi teknologi, pengembangan SDM FM, dan pengintegrasian system FM sejak awal proyek merupakan kunci agar fasilitas di Indonesia tidak hanya indah secara arsitektur tetapi juga efisien, aman, dan berkelanjutan dalam praktik operasionalnya.

Ini bukan sekadar checklist, tetapi transformasi cara pandang dan pendekatan manajemen aset jangka panjang, dan semua itu bisa dicapai melalui langkah-langkah implementatif yang tersedia berdasarkan praktik global dan kebutuhan lokal Indonesia. 

Semoga memberi sudut pandang baru dalam menjalani peran FM.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggung Jawab Facility Management Team

Apa saja tanggung jawab dari facility management team? Yang utama adalah hal-hal dibawah ini: 1)      Mengatur & mempersiapkan budgets (secara tahunan dan bulanan) dan mengatur pengeluaran. o     Level Manager: selain mempersiapkan secara rutin untuk setiap tahunnya, untuk level manager, diharuskan mempunyai strategi khusus yang terkait dengan penghematan, inovasi dan project management o     Level staff: memastikan bahwa semua hal-hal rinci sudah dimasukkan kedalam budget dan melakukan pemeriksaan secara rutin. 2)      Pengelolaan Contract , melakukan tender dan negosiasi o     Level Manager: focus untuk pengelolaan kontrak, melakukan tender dan negosiasi. Dibeberapa perusahaan, level manager menangani kontrak dengan nilai tertentu (misal: min total nilai Rp. 500 juta per tahun ditangani manager) dan bekerja sama dengan bagian procurement. o     Level staff: mem...

7 Kompetensi Inti yang Harus Dikuasai oleh Facility Manager

Saya sudah beberapa kali menuliskan mengenai core competencies yang perlu dimiliki oleh Facility Manager. Dunia facility management selalu berkembang. Hingga hari ini, otomatisasi mulai banyak diimplementasikan, sustainability mulai diterapkan serta perusahaan sudah mulai memiliki ekspektasi bisnis yang lebih besar terhadap facility manager dalam mengelola fasilitas. Sudah bisa dipastikan, Facility Manager (FM) akan selalu memegang peran penting dalam menjaga operasional bangunan, mendukung produktivitas karyawan perusahaan, dan memastikan keberlanjutan fasilitas. Saya mendapatkan artikel menarik dari blog IFMA mengenai 7 kompetensi inti (core competencies) berikut harus dikuasai oleh FM untuk sukses di era saat ini, yang baru saja dituliskan di bulan May 2025. Berikut core competencies yang perlu dikuasai oleh FM menurut IFMA: 1. Kepemimpinan dan Strategi (Leadership & Strategy)  FM perlu memiliki kemampuan memimpin tim dan mengembangkan strategi yang selaras dengan tu...

Facility Management vs. Workplace Management di Era Kerja Hybrid: 4 Strategy Penting Untuk Integrasi

Setelah lebih dari 25 tahun bekerja di bidang facility management, saya pikir saya cukup familiar dengan istilah, sistem, dan dinamika pekerjaan di dalamnya. Namun, sejak 2020, ada satu istilah yang terus muncul dalam setiap diskusi, webinar, dan bahkan percakapan santai antar team: workplace management .   Dulu istilah ini tidak terlalu ramai. Tapi pasca pandemi COVID-19, seolah ada pergeseran besar: bukan hanya soal menjaga fasilitas tetap berfungsi, tapi juga bagaimana fasilitas itu mendukung cara kerja baru—yang fleksibel, digital, dan berbasis pengalaman karyawan.   Banyak Organisasi Masih Fokus pada Gedung, Bukan Penggunanya Saat ini, banyak perusahaan di Indonesia—terutama sektor perbankan, manufaktur, dan instansi publik—masih menganggap facility management (FM) cukup untuk menjalankan operasional kantor. Padahal di era kerja hybrid, pengalaman kerja (employee experience) sudah menjadi faktor utama dalam retensi, produktivitas, bahkan kesehatan mental karyawa...