Selamat Tahun Baru 2026! Menyenangkan sekali bisa memulai menulis blog ini hanya dalam minggu ketiga di bulan January 2026 ini. Saya bersyukur berhasil mengalahkan rasa enggan memulai dikarenakan kekuatiran pribadi untuk membuat tulisan yang bermanfaat. Berdasarkan pengamatan serta pengalaman saya, saat ini, Facility Management (FM) di Indonesia sedang berada di titik kritis. Di satu sisi, ekspektasi terhadap fungsi FM semakin tinggi. Di sisi lain, banyak organisasi masih memperlakukan FM sebagai fungsi operasional pendukung yang bekerja di belakang layar—selama gedung “tidak bermasalah”. Paradigma inilah yang justru menjadi sumber masalah terbesar FM hari ini. Saya menyadari, memasuki tahun 2026, arah Facility Management tidak lagi sama. Secara global maupun regional, FM telah bergeser dari sekadar cost center menjadi penjaga nilai (value protector) dan pengelola risiko bisnis. Gedung serta fasilitas bukan lagi hanya bangunan fisik, tetapi aset strategis yang mempengaruhi produktivita...
Ternyata, masih ada kesalahan implementasi Facility Management (FM) di banyak fasilitas di Indonesia. Yang perlu kita ingat, banhwa FM bukan sekadar urusan “bersih-bersih dan perbaikan ac”; FM adalah disiplin manajemen terpadu yang mengatur seluruh aspek operasional suatu bangunan agar aset tetap andal, aman, dan produktif sepanjang life-cycle atau siklus hidupnya. Namun, pada realitanya, penerapan FM di banyak fasilitas di Indonesia menunjukkan masih banyak gap antara ideal FM dan implementasinya di lapangan. Berikut 5 dari implementasi FM yang perlu dipahami lebih baik dan bagaimana memperbaikinya secara umum: 1. Pemahaman FM yang Masih Dangkal. Di beberapa korporasi, masih adanya pandangan bahwa FM adalah bagian dari administratif atau sekedar dukungan teknis (cleaning service, tukang AC, tukang listrik), sehingga, FM tidak dipandang sebagai fungsi strategis yang berkontribusi terhadap kinerja bangunan dan nilai keseluruhan aset. Banyak manajemen dari k...