Berdasarkan pengamatan serta pengalaman saya, saat ini, Facility Management (FM) di Indonesia sedang berada di titik kritis. Di satu sisi, ekspektasi terhadap fungsi FM semakin tinggi. Di sisi lain, banyak organisasi masih memperlakukan FM sebagai fungsi operasional pendukung yang bekerja di belakang layar—selama gedung “tidak bermasalah”. Paradigma inilah yang justru menjadi sumber masalah terbesar FM hari ini.
Improve Your Facilities
Minggu, 11 Januari 2026
Peran Baru FM: Melindungi Operasi, Reputasi, dan Keberlanjutan Bisnis
Berdasarkan pengamatan serta pengalaman saya, saat ini, Facility Management (FM) di Indonesia sedang berada di titik kritis. Di satu sisi, ekspektasi terhadap fungsi FM semakin tinggi. Di sisi lain, banyak organisasi masih memperlakukan FM sebagai fungsi operasional pendukung yang bekerja di belakang layar—selama gedung “tidak bermasalah”. Paradigma inilah yang justru menjadi sumber masalah terbesar FM hari ini.
Minggu, 14 Desember 2025
Transformasi Facility Management: Dari Aktivitas ke Hasil yang Terukur
Selama bertahun-tahun, sebagian besar kontrak Facility Management (FM) di Indonesia masih berorientasi pada input-based model, di mana fokus utama ada pada jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan aktivitas harian.
Misalnya,
keberhasilan layanan sering diukur dari berapa banyak teknisi yang ditempatkan,
seberapa cepat mereka hadir, atau seberapa sering jadwal pembersihan dilakukan.
Namun,
pendekatan ini menimbulkan sejumlah tantangan:
·
Tidak
selalu mencerminkan hasil nyata terhadap kepuasan pengguna atau efisiensi
operasional.
·
Menyulitkan
pengukuran value for money karena biaya meningkat tanpa jaminan peningkatan
kualitas.
·
Membatasi
inovasi, karena vendor cenderung “menjalankan rutinitas” ketimbang mencari cara
baru untuk meningkatkan kinerja fasilitas.
Tren global menunjukkan pergeseran menuju Outcome-Based Contracting (OBC) model di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah orang, tetapi dari hasil kerja yang terukur.
Dalam model
ini, klien dan penyedia layanan menyepakati indikator kinerja utama (KPI) yang
berfokus pada hasil, seperti:
1.
Tingkat
kepuasan pengguna fasilitas (occupant satisfaction score)
2.
Ketersediaan
aset penting (uptime)
3.
Pengurangan
konsumsi energi atau biaya operasional
4.
Kepatuhan
terhadap standar keselamatan dan keberlanjutan
Dengan model
ini:
·
Vendor
memiliki kebebasan untuk menentukan cara terbaik mencapai hasil.
·
Inovasi,
digitalisasi, dan efisiensi kerja menjadi bagian dari strategi bisnis.
·
Klien
mendapatkan hasil nyata yang selaras dengan tujuan organisasi, bukan sekadar
aktivitas rutin.
Relevansi
untuk Tim FM di Indonesia
Perubahan ini
membutuhkan transformasi mindset dan kompetensi dari seluruh tim FM, baik dari
sisi klien maupun penyedia layanan.
Beberapa
langkah yang perlu dipersiapkan antara lain:
·
Peningkatan
kemampuan analitik dan pengukuran kinerja, agar tim dapat mengelola KPI
berbasis hasil.
·
Pemahaman
teknologi dan data-driven decision, karena outcome-based bergantung pada bukti
data, bukan asumsi.
·
Perubahan
budaya kerja dari “menjalankan perintah” menjadi “mencapai hasil”.
·
Kemitraan
strategis dengan vendor, bukan sekadar hubungan transaksi.
Langkah-langkah
tersebut perlu ditingkatkan oleh kedua belah pihak, selaku client dan vendor,
karena memerlukan persamaan persepsi untuk bisa menjalankan model Outcome-Based
Contracting (OBC) ini.
Dengan contoh indikator kinerja utama (KPI) yang disepakati, maka timbul komitment yang perlu dipelajari dan ditindaklanjuti bersama, contoh:
|
KPI |
Client |
Vendor |
|
Tingkat
kepuasan pengguna fasilitas (occupant satisfaction score). |
Komitmen
untuk mengisi survey secara aktif serta memberikan masukan untuk perbaikan. |
Aktif
untuk bertanya dan melakukan rapat koordinasi dengan client. |
|
Ketersediaan
aset penting (uptime). |
Komitmen
untuk mencatat dan memberikan data asset. |
Memiliki
system pencatatan serta rapih dokumentasi. |
|
Pengurangan
konsumsi energi atau biaya operasional. |
Komitmen
untuk semua karyawan mengikuti program yang disetujui dan pendanaan untuk
mengganti peralatan yang sudah rusak. |
Aktif
memberikan usulan penghematan energi. |
|
Kepatuhan
terhadap standar keselamatan dan keberlanjutan. |
Komitmen
untuk semua karyawan mengikuti program keselamatan yang dibuat. |
Meningkatkan
kompetensi untuk mengetahui standar keselamatan dan aktif berkomunikasi
kepada client. |
Menatap Masa Depan FM yang Berorientasi Hasil
Era kontrak outcome-based membuka peluang besar bagi industri FM Indonesia untuk naik kelas. Dengan mengubah fokus dari berapa banyak orang yang bekerja menjadi seberapa besar hasil yang dicapai, organisasi dapat meningkatkan efisiensi, kepuasan pengguna, dan keberlanjutan jangka panjang.
Perusahaan
dan profesional FM yang mampu beradaptasi dengan model ini, menguasai data,
inovasi, dan kolaborasi akan menjadi pemain utama dalam ekosistem FM modern
yang lebih strategis dan bernilai tinggi.
Semoga bermanfaat
Jumat, 07 November 2025
3 Faktor Kunci yang Membentuk Pengalaman Kerja Modern: Ruang, Layanan, dan Teknologi
Saat ini model kerja tradisional yang mengharuskan kehadiran secara fisik di kantor (work from office), kini mengalami perubahan besar. Efek pandemi mempercepat pergeseran menuju model kerja hybrid dan berdasarkan output/hasil, memenuhi kebutuhan karyawan yang menginginkan fleksibilitas kerja, kenyamanan, dan terhubung secara digital/online.
Untuk memenuhi perubahan ini, menjadi tantangan baru untuk banyak
perusahaan di Indonesia, khususnya bagi tim Facility Management (FM) terutama; bagaimana
memastikan ruang kerja tetap relevan, produktif, dan mendukung well-being
pengguna dalam sistem kerja yang dinamis.
FM Tradisional adalah fokus pada pemeliharaan fisik Gedung, saat
ini, FM memiliki tuntutan untuk memahami pengalaman pengguna (workplace
experience) secara menyeluruh: bagaimana ruang, layanan, dan teknologi
berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang menarik dan efisien.
Transformasi ke model kerja masa depan menuntut FM untuk
beradaptasi dari peran operasional menjadi strategic enabler. Fokusnya bergeser
dari “mengelola fasilitas” menjadi “mengelola pengalaman kerja”.
Untuk memastikan team FM memiliki kemampuan mengelola pengalaman
kerja, berikut Tiga Faktor Kunci yang harus diketahui dan dikelola oleh FM:
1) Ruang:
- Meningkatkan efisiensi ruang melalui data okupansi dan sensor IoT.
- Memaksimalkan area kolaborasi yang mendukung kreativitas dan koneksi antar karyawan dengan membuatkan program bersama team HR.
- Membantu memberikan ide mengenai desain ruang kerja yang fleksibel yang dapat mengakomodasi kerja tim, individu, dan remote.
2) Service/Layanan:
- Membuat tolak ukur layanan secara hasil dan focus kepada pengguna, tidak hanya sekadar rutinitas operasional dan pemeliharaan.
- Memastikan fasilitas menyediakan layanan yang mendukung kesehatan dan kenyamanan (indoor air quality, lighting, ergonomi).
- Merubah mindset dari team FM menjadi focus kepada hospitality mindset.
3) Teknologi:
- Mengadopsi digital workplace tools: smart building system, aplikasi pemesanan ruang, dan platform feedback pengguna.
- Belajar mengerti data serta memanfaatkan data dari digital tools untuk keputusan berbasis insight (data-driven FM).
- Memastikan sistem keamanan dan privasi tetap terjaga di era kerja digital.
Faktor Penggerak Utama:
- Well-being: Karyawan menginginkan lingkungan kerja yang menyehatkan fisik dan mental.
- Flexibility: Ruang kerja harus mudah disesuaikan dengan pola kerja yang berubah-ubah.
- Technology: memastikan fasilitas teknologi sesuai dengan kebutuhan untuk memenuhi pengalaman kerja karyawan termasuk kemudahan interaksi digital dan otomatisasi proses.
Perubahan ke model kerja masa depan bukan hanya perubahan
cara kerja, tetapi perubahan cara berpikir dalam pengelolaan fasilitas. Tentunya,
komunikasi aktif antara team FM, HR dan manajemen perlu selalu dilakukan untuk
memastikan kualita layanan terjaga.
FM kini memiliki peran penting sebagai arsitek pengalaman
kerja, yang menggabungkan ruang, layanan, dan teknologi untuk menciptakan
lingkungan yang produktif, sehat, dan fleksibel.
Untuk team FM di Indonesia, perusahaan yang mampu
beradaptasi dengan pendekatan ini akan memiliki keunggulan kompetitif; menarik
talenta terbaik, meningkatkan engagement, dan memperkuat budaya kerja di era
digital.
Hal-hal penting yang perlu dicatat:
- Model kerja masa depan = fokus pada pengalaman kerja, bukan sekadar kehadiran.
- Fungsi FM = berperan sebagai pengelola ruang, layanan, dan teknologi secara terintegrasi.
- Faktor utama = well-being, fleksibilitas, dan teknologi pintar.
Tujuan akhir dari team FM adalah meningkatkan workplace
experience untuk produktivitas dan memastikan karyawan nyaman di fasilitas
kerja sehingga mendukung core business dari perusahaan.
Kita sebagai team FM perlu membangun kolaborasi lintas
fungsi; HR, IT, dan Business Leaders untuk memastikan workplace experience
menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar biaya operasional.
Semoga bermanfaat
Minggu, 28 September 2025
3 Soft-Skills Penting dalam Facility Management
Kita sebagai Facility Manager perlu mengerti hal-hal teknis seperti pemeliharaan gedung, pengelolaan aset, atau pengawasan kebersihan. Beberapa dari Facility Manager merasa bangga sudah mengerti banyak hal teknis di fasilitas mereka. Saat ini, keahlian teknis adalah sebagian dari keahlian seorang Facility Manager. Kita, Facility Manager, perlu mengerti keahlian non-teknis, atau soft-skill.
- Miskomunikasi antara tim operasional dan user dari fasilitas dapat menimbulkan kesalahpahaman, keterlambatan, bahkan konflik.
- Kurangnya kolaborasi antar-anggota team atau antara department bisa membuat pekerjaan tidak sinkron.
- Tidak adanya rasa empati dari seorang manajer sering menyebabkan turunnya motivasi karyawan dan terganggunya hubungan kerja.
Minggu, 31 Agustus 2025
4 Hal Penting Procurement dalam Facility Management
Dalam mengelola fasilitas, kita sebagai Facility Manager akan terhubung dengan vendor yang mendukung fasilitas tersebut. Pastinya, mengelola vendor ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh para Facility Manager. Tantangan terkait pengelolaan vendor ini antara lain:
- Kualitas layanan dari vendor yang berbeda tidak konsisten.
- Respons lambat dalam penanganan masalah darurat.
- Kesulitan mengukur kinerja vendor secara objektif.
- Pembengkakan biaya tak terduga akibat kontrak yang tidak jelas.
- Risiko operasional akibat ketergantungan pada vendor yang tidak kompeten.
Kinerja dari vendor yang tidak memadai, pastinya akan
mengganggu operasional fasilitas. Gangguan ini akan berdampak signifikan pada
biaya dan produktivitas.
Secara organisasi, team Procurement memegang peranan penting
terkait dengan mengelola vendor, mulai dari memilih vendor, membuatkan standar
kontrak dan lainnya. Dalam hal pengelolaan vendor, berikut 4 hal penting yang
perlu dilakukan oleh team Procurement:
1. Standarisasi Pemilihan Vendor Berkualitas. Proses
seleksi vendor yang terstandarisasi merupakan fondasi utama procurement FM yang
efektif. Standarisasi ini harus mencakup:
Kriteria Seleksi yang Jelas:
- Pengalaman dan track record di industri sejenis
- Kemampuan finansial dan stabilitas perusahaan
- Ketersediaan sumber daya dan teknologi
- Sertifikasi kompetensi (ISO, SMK3, bidang teknis tertentu)
Proses yang Transparan:
- Penggunaan RFP (Request for Proposal) terstruktur
- Evaluasi oleh tim multidisiplin (FM, procurement, legal)
- Due diligence menyeluruh termasuk kunjungan lapangan
2. Standarisasi Kontrak & Evaluasi Kinerja Vendor. Kontrak
yang terstandarisasi melindungi kedua belah pihak dan memastikan keselarasan
ekspektasi:
Komponen Kontrak yang Penting:
- SLA (Service Level Agreement) yang terukur dan realistis
- Mekanisme penalti dan reward yang jelas
- Klausul terminasi dan exit strategy
- Penyesuaian harga yang transparan
Sistem Evaluasi Kinerja:
- KPI kuantitatif (waktu respons, tingkat resolusi pertama)
- Survey kepuasan pengguna fasilitas
- Audit berkala dan review kinerja dalam periode yang disetujui bersama (bulanan atau 3 bulan)
3. Meningkatkan Kualitas Vendor secara Berkelanjutan. Pengembangan vendor bukanlah biaya, melainkan investasi. Bentuk investasi yang bisa dilakukan oleh team FM dan procurement:
Program Pengembangan:
- Training dan workshop reguler
- Berdiskusi terkait best practices
- Feedback konstruktif yang berkelanjutan
- Program reward untuk kinerja outstanding
Kolaborasi Strategis:
- Vendor sebagai partner innovation
- Joint improvement projects
- Technology transfer dan knowledge sharing
4. Manajemen Risiko dalam Proses Procurement. Pendekatan proaktif terhadap manajemen risiko yang disetujui bersama antara team FM, procurement dan vendor itu sendiri:
Identifikasi Risiko:
- Ketergantungan pada vendor tertentu
- Risiko compliance dan regulasi
- Single point of failure
Strategi Mitigasi:
- Multi-sourcing untuk layanan kritis
- Contractual risk sharing
- Business continuity planning dengan vendor
- Insurance requirement yang memadai
Dengan menerapkan 4 hal tersebut, team Procurement akan memberikan
vendor yang memberikan manfaat dalam operasional FM, utamanya:
- Penghematan Biaya: dengan adanya kontrak yang lebih optimal.
- Kualitas Layanan yang Konsisten: SLA yang jelas dan terukur
- Pengurangan Risiko: Mitigasi proaktif terhadap potensi masalah
- Innovasi: Vendor menjadi partner pengembangan fasilitas
Team Procurement perlu memiliki program berikut untuk
meningkatkan pengelolaan vendor:
- Membuat Standard Operating Procedure terkait procurement vendor.
- Menerapkan Sistem Evaluasi kinerja yang objektif dan transparan.
- Hal di atas dilakukan dengan bekerjasama dengan team operasional sehingga bisa mendapatkan vendor yang tepat dan kinerja yang terukur.
- Mengembangkan Template Kontrak standar untuk berbagai jenis layanan. Tentunya bekerjasama dengan team legal perusahaan terkait klausa – klausa yang dituliskan dalam kontrak.
- Investasi dalam pengembangan kapabilitas vendor. Investasi ini bisa berupa edukasi secara regular serta kolaborasi dengan team operasional mengenai harapan dan hasil actual di area kerja.
Standarisasi procurement dalam Facility Management bukan
hanya tentang penghematan biaya, tetapi tentang menciptakan ekosistem vendor
yang berkualitas, andal, dan berkomitmen terhadap keunggulan operasional yang
akan sangat mendukung team FM dalam memastikan pengelolaan fasilitas.
Dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis, perusahaan/organisasi
dapat mengubah fungsi procurement dari sekadar administrative cost center
menjadi strategic value creator yang memberikan kontribusi nyata terhadap
pengembangan dan keberlanjutan fasilitas.
"Vendor yang berkualitas adalah extended team yang
membantu mencapai excellence dalam pengelolaan fasilitas."
Semoga bermanfaat!
Top 5 Teknologi Facility Management yang Wajib Diketahui di Era Digital
Peran Facility Management (FM) dalam perusahaan semakin strategis. Tidak hanya sebatas menjaga gedung tetap berfungsi, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang aman, efisien, nyaman, dan berkelanjutan. Dengan semakin kompleksnya kebutuhan perusahaan, maka tantangan yang dihadapi oleh FM memerlukan solusi yang lebih cepat, dan terukur.
Saat ini, kita sebagai Facility Manager memiliki tantangan
dalam hal-hal berikut:
- Tingginya biaya operasional energi dan pemeliharaan.
- Ketidakefisienan dalam mengelola aset dan ruang.
- Respons lambat terhadap keluhan pengguna gedung.
- Kurangnya data real-time untuk pengambilan keputusan.
- Kesulitan memenuhi standar keberlanjutan (ESG).
Dalam era digital saat ini, teknologi menjadi solusi utama
untuk menjawab tantangan-tantanga tersebut. Berdasarkan insights dari JLL
Technologies (JLLT) dan Truein, berikut lima teknologi yang sedang membentuk
masa depan FM:
1. Artificial Intelligence (AI) & Machine Learning. AI
mengubah FM dari reaktif menjadi proaktif. AI bisa memberikan analisis
prediktif, sehingga kita bisa:
- Memperkirakan kerusakan aset sebelum terjadi (predictive maintenance).
- Mengoptimalkan penggunaan ruang dan energi berbasis data.
- Mengotomatiskan layanan melalui AI chatbot untuk respons cepat.
2. Internet of Things (IoT) & Smart Building. Penempatan
sensor-sensor IoT menghubungkan dunia fisik dengan digital dan menerapkan Smart
Building, sehingga bisa:
- Pemantauan real-time kualitas udara, suhu, dan tingkat hunian.
- Integrasi dengan Building Management System (BMS) untuk otomatisasi HVAC dan pencahayaan.
- Gedung menjadi adaptif terhadap kebutuhan penghuni.
3. Computerized Maintenance Management System (CMMS) &
Integrated Workplace Management System (IWMS). Platform terintegrasi ini
menyederhanakan manajemen FM dalam mengelola permintaan/keluhan dari pengguna,
jadwal pemeliharaan :
- CMMS mengelola work order, jadwal perawatan, dan vendor.
- IWMS memberikan visibilitas penuh atas aset, ruang, dan biaya.
- Mengurangi downtime dan meningkatkan efisiensi tim.
4. Teknologi Lingkungan & Sustainability Tools. Untuk
beberapa perusahaan yang sudah mengukur informasi terkait lingkungan, FM
memegang peran kunci dalam memastikan data terangkum dengan baik. Beberapa
teknologi yang terkait ESG:
- Smart metering untuk pelacakan konsumsi energi dan air. Informasi ini bisa terhubung dengan BMS serta tercatat dalam Smart Building System.
- Sensor kualitas udara untuk kesehatan penghuni. Sensor akan memberikan notifikasi jika adanya perubahan Dari kualitas udara di area kerja.
- Platform pelaporan otomatis untuk target karbon perusahaan yang bisa dikondisikan dengan data secara manual.
5. Mobile Apps & Self-Service Platforms. Aplikasi dan
platform ini bertujuan untuk Fokus pada pengalaman pengguna:
- Booking ruang rapat, parkir, atau meja kerja via aplikasi. Secara umum dengan menggunakan MS Outlook atau aplikasi lainnya.
- Pelaporan kerusakan secara real-time oleh pengguna dengan menggunakan system help desk yang terintegrasi dengan CMMS.
- Transparansi layanan dan penyelesaian masalah yang cepat dengan menggunakan dashboard mengenai lamanya proses penyelesaian masalah disesuaikan dengan service level yang sudah disetujui.
Solusi terkait tantangan sebelumnya bisa dirangkum sebagai
berikut:
|
Tantangan |
Solusi |
|
Tingginya biaya operasional energi
dan pemeliharaan. |
- Pemasangan sensor IOT dan Smart
Building. |
|
Ketidakefisienan dalam mengelola
aset dan ruang. |
- Implementasi IWMS secara efektif
dan terarah. |
|
Respons lambat terhadap keluhan
pengguna gedung. |
- Implementasi system help desk. |
|
Kurangnya data real-time untuk
pengambilan keputusan. |
- Membuat standarisasi pengukuran
terkait Facility Management. |
|
Kesulitan memenuhi standar
keberlanjutan (ESG). |
- Implementasi teknologi lingkungan
dan Sustainability Tools. |
Lima teknologi tersebut adalah masa depan dari Facility
Management untuk menjawab tantangan para Facility Manager.
Mari siapkan fasilitas serta pengetahuan kita dengan
pengetahuan serta fasilitas dari teknologi tersebut.
Sumber referensi terkait teknologi berdasarkan dari:
1. JLL Technologies – Facilities Management Trends to Watch in 2024: https://www.jllt.com/blog/facilities-management-trends-to-watch-in-2024
2. Truein – 12 Key Facility Management Trends for 2025: https://truein.com/facility-management-trends
Rabu, 30 Juli 2025
Prinsip Pareto 80/20 dalam Facility Management: Fokus pada Yang Paling Berdampak
Saya tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut prinsip 80/20
dalam industry facility management dan menurut beberapa sumber berikut, dalam beberapa
hal, prinsip 80/20 berlaku dalam dunia facility management:
- Menurut Scale123, dalam pengelolaan fasilitas, 20% dari unit, vendor, atau masalah teknis bisa menyumbang 80% dari total keluhan, biaya, atau risiko operasional. Dengan memahami pola ini, facility manager dapat mengalihkan perhatian dari pendekatan serba reaktif ke arah yang lebih fokus dan efisien.
- FaultFixers menekankan bahwa prinsip 80/20 sangat penting dalam keseimbangan antara preventive dan reactive maintenance. Mereka menunjukkan bahwa sebagian besar downtime, biaya perbaikan, dan keluhan terjadi akibat ketidakteraturan dalam menangani “20% aset bermasalah”.
Secara umum, team facility management mengalami hal-hal
berikut dalam operasional:
- Terlalu Banyak Fokus pada “Trivial Many”. Banyak tim FM terjebak dalam upaya menyelesaikan semua masalah secara merata, termasuk masalah kecil yang jarang berdampak besar. Akibatnya, sumber daya tersedot untuk hal yang sebenarnya bisa ditunda atau diotomatisasi.
- Tidak Memiliki Prioritas Data-Driven. Tanpa data dan visualisasi yang baik (misalnya Pareto Chart), manajer sulit membedakan mana aset, lokasi, atau vendor yang seharusnya menjadi prioritas tinggi.
- Biaya dan Waktu Hilang untuk Masalah yang Salah. Tanpa strategi Pareto, perusahaan bisa menghabiskan 80% anggaran maintenance untuk 80% aset yang jarang rusak, sementara aset “kritis” luput dari perhatian.
Sumber dari SSG Insight menyarankan agar manajer fasilitas
mengidentifikasi area atau aset yang paling sering menyebabkan gangguan atau
keluhan. Ini bisa dilakukan dengan:
- Menganalisis data tiket layanan
- Mengkaji histori downtime dan biaya perbaikan
- Mengklasifikasikan aset berdasarkan criticality level
- Menggunakan Pareto Chart untuk memvisualisasikan 20% penyebab utama
Strategi Praktis Penerapan Prinsip 80/20
Berikut langkah konkret yang bisa dilakukan oleh tim
facility management berdasarkan keempat sumber:
1. Gunakan CMMS atau Platform Digital. Platform seperti
FaultFixers dan lainnya membantu mencatat dan mengelompokkan masalah
berdasarkan tipe, lokasi, dan frekuensi. Dengan sistem ini, Anda bisa dengan
mudah melihat tren dan sumber masalah dominan.
2. Lakukan Pareto Analysis secara Berkala. Seperti
dijelaskan dalam MaintenX, analisis Pareto dapat digunakan untuk
mengidentifikasi masalah yang paling mahal, paling sering terjadi, atau paling
mengganggu operasi. Ini membantu manajer menetapkan prioritas perbaikan yang
berdampak nyata.
3. Tingkatkan Preventive Maintenance pada Aset Kritis. Setelah
mengetahui aset yang menyumbang 80% risiko, jadwalkan preventive maintenance
lebih sering pada aset tersebut. Ini akan menurunkan kemungkinan kerusakan dan
meningkatkan umur pakai.
4. Evaluasi Vendor atau Kontraktor. Dalam property
management, Scale123 mencatat bahwa 20% vendor bisa menyumbang 80% masalah
kualitas pekerjaan. Dengan data tersebut, tim bisa mengganti atau memperbaiki
kontrak kerja sama.
Dengan menerapkan prinsip Pareto 80/20 dalam industry facility
management akan menjadi strategi yang sangat relevan untuk facility management
modern. Dengan memanfaatkan data historis dan alat analisis sederhana, tim FM
bisa memfokuskan usaha pada area yang paling berdampak — baik dalam hal
efisiensi biaya, peningkatan layanan, maupun pengelolaan risiko.
Ingat, bukan semua masalah harus diselesaikan hari ini. Tapi
20% masalah yang benar harus diselesaikan lebih dulu.
Sumber Referensi:
https://www.scale123.com/pareto-principle-property-management/
https://www.faultfixers.com/blog/the-80-20-rule-for-preventative-and-reactive-maintenance
https://ssginsight.com/about-us/news-events/leveraging-the-80-20-rule-for-success/
https://maintenx.com/the-80-20-rule-of-facility-maintenance/
Peran Baru FM: Melindungi Operasi, Reputasi, dan Keberlanjutan Bisnis
Selamat Tahun Baru 2026! Menyenangkan sekali bisa memulai menulis blog ini hanya dalam minggu ketiga di bulan January 2026 ini. Saya bersyuk...
-
Apa saja tanggung jawab dari facility management team? Yang utama adalah hal-hal dibawah ini: 1) Mengatur & mempersiapkan...
-
Saya sudah beberapa kali menuliskan mengenai core competencies yang perlu dimiliki oleh Facility Manager. Dunia facility management selalu b...
-
Berdasarkan pengalaman saya selama lebih dari 15 tahun di bidang Facility Management, berikut kualifikasi yang diharapkan dari kand...